Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2015

Sekolah Unggulan? Sekolah Favorit?

Haloooo. Sedih w udah sibuk ospek jd makin tidak produktif :((( padahal dari seminggu sebelumnya udh mau nulis sesuatu, tapi ya mager banget huft. Ini kepending seminggu juga lagi =_=

Rasanya aku pernah cerita waktu pertama dapet pengumuman kalau aku lulus di SMA yg katanya SMA terbaik di Bandung atau kayaknya di Jawa Barat juga, aku pikir aku mungkin bakal dapet ranking terakhir. :( Ya da aku mah apa dari smp yg biasa aja, bukan smp yang unggulan yang ada rsbinya itu. Eh ternyata alhamdulillah ga gitu-gitu amat.

Waktu jaman-jamannya mau UN kemarin, pas liat jalanan sepi karena mungkin anak-anak SMA selain kelas 3 pada ga masuk, Ayahku tiba-tiba bilang, "ngapain sekolah jauh-jauh, da yang pinter mah sekolah di mana aja juga tetep pinter". Emang pernyataan itu ga salah sih, but school is not only about studying, it's learning.

Sebenernya selama SMA itu banyak banget pelajaran yang aku dapet dan mungkin ga akan aku dapetin kalau aku sekolah di tempat lain. Ya tergantung lingkungan juga sih, di ekskul tuh emang bener-bener ladang ilmu banget. Udah ga aneh liat alumni yang udah berapa tahun lulus dan masih loyal banget sama ekskulnya. Trus acara sekolahnya sendiri juga suka ngadain talkshow motivasi.
Ditambah lagi temen-temen yang selalu bikin aku termotivasi buat jadi lebih baik lagi. Temen-temen yang selalu peduli. Pas deket2 hari sbmptn, banyak yang ngasih ucapan semangat (hm cuma 2 sih haha). Dan kakak kelasnya juga suka ngesupport ade-adenya. Pokoknya masa-masa SMA tuh emang paling bermakna(saat ini). Beda banget sama waktu smp. Di sma itu jadi ngerasa banyak banget aspek yang harus aku perbaiki, niat juga harus dibenahi lagi.

Trus nih ya, aku baru beres ospek loh! Kalo ospek univ sih, ya lumayan berkesan.. atmosfirnya beda banget sama sma. Kalau daftarnya ke itb sih mungkin ga bakal beda jauh suasananya kayak waktu sma hahaha. Tapi ospek fakultasnya seru banget!

Ada simulasi kuliahnya (yang bikin merod abis T.T), materi yang (pematerinya) keren-keren, panitianya juga keren sih. :) Di saat mereka udah mulai kuliah, mereka masih nyempetin buat ngurus ini semua.

Selama 3 tahun terakhir ini mungkin, aku banyak banget ketemu orang-orang yang tulus mau 'cape-cape'an buat orang lain, buat ngirusin orang lain. Banyak banget orang yang berusaha buat jadi orang yang bermanfaat untuk orang-orang. Alhamdulillah aku bisa liat semua itu, kalau ngga, mungkin aku udah jadi orang yang ogois banget.

Jadi, sekolah itu bukan cuma tentang kualitas kurikulum di situ, bukan cuma tentang jeniusnya orang-orang yang lulus dari situ, bukan cuma tentang 'oh sma ini anaknya kan pinter2' 'bagus nih kalau kamu masuk sini'.. Tapi, apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dan apa yang bisa kita berikan untuk adik-adik kita kelak. Jangan bangga dengan almamater mu, tapi buatlah almamatermu bangga :)
Sekian dan terimakasih ;)

Selasa, 09 Desember 2014

Virus Yang Menyerang Pelajar di Indonesia

 Beberapa waktu yang lalu (atau lebih tepatnya beberapa tahun yang lalu, aku tidak ingat persisnya kapan) ketika aku sedang dalam perjalanan menuju ke rumah, aku melihat semacam spanduk yang intinya berisi "jujur itu hebat". Saat itu aku berpikir, sebanyak apakah kebohongan yang telah diucapkan oleh masyarakat indonesia sampai sampai ada himbauan seperti itu?
Memang saat ini di mata pelajar sendiri, jujur mungkin suatu hal yang sulit terutama mereka yang terbiasa mencontek. Mencontek menjadi fenomena yang sudah tidak aneh. Karena tuntutan sekolah untuk mencapai kkm, siswa harus lebih keras dalam belajar terutama karena banyaknya materi yang harus dikuasai oleh siswa. Mereka yang merasa lelah akan memilih jalan lain yang dianggap lebih mudah, praktis, dan terjamin, mencontek.
Lingkungan juga sangat berpengaruh dalam hal ini. Siswa yang berada di lingkungan yang terbiasa mencontek mendukung dia untuk mencontek. Bahkan mungkin membuat siswa yang tidak pernah mencotek jadi terbiasa mencontek karena merasa hasil yang dia dapatkan tidak adil. Tetapi sebaliknya, siswa yang berada di lingkungan yang jujur justru menjadi segan untuk mencontek dan merasa malu. Terlebih lagi siswa tersebut tidak dapat bertanya kepada temannya.
Tidak hanya itu, guru sebagai pengajar sekaligus pendidik seharusnya menegaskan hal ini semenjak dini sampai dewasa. Karena ketika memasuki masa SMA, tak jarang guru menutup matanya dan bungkam mengenai fenomena ini. Akhirnya siswa pun leluasa untuk mencontek sesuka hati. Mungkin bukti yang ditemukan guru kurang kuat. Jika orang tua siswa mengetahui hal tersebut, bisa saja orang tua tersebut malah protes dan menyalahkan sekolah karena tidak ingin anaknya dicap buruk.
Ya, itulah fenomena yang terjadi di Indonesia, sebaiknya pemerintah membenahi kebijakan untuk pendidikan karena siswa merasa sangat terbebani dengan kurikulum saat ini. Siswa dituntut untuk menguasai semua pelajaran dan bahkan harus mencapai nilai ketuntasan minimal. Guru saja hanya menguasai satu bidang, ya walaupun ada yang lebih tetapi mereka tidak akan mendalami sampai lebih dari 10 pelajaran selain yang ia kuasai bukan? Dan pendalamannya pun berbeda. Setelah lulus SMA dilanjutkan kuliah dan bekerja, siswa juga hanya akan mendalami beberapa pelajaran saja. Sebetulnya kurikulum ini pada awalnya memang bertujuan baik tetapi ternyata justru berdampak buruk terutama pada moral siswa dan bahkan keadaan psikis siswa karena stres akibat semua bebannya. Peran guru juga sangat penting untuk menjaga karakter siswa. Guru harus lebih menekankan lagi bahwa knowledge is power but character is more.

Selasa, 11 November 2014

Degradasi Moral

            Saat ini bangsa Indonesia terus mengalami degradasi moral.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia degradasi berarti kemunduran, kemerosotan, penurunan, dsb. Sedangkan moral berarti baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb. Moral juga dapat diartikan sebagai akhlak, budi pekerti, susila, kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bergairah, berdisiplin, dsb.
            Kemunduran moral bangsa Indonesia saat ini terlihat dari berbagai hal, diantaranya tutur kata, cara berpakaian, dan terutama perilaku. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya karena masyarakat sendiri tidak peduli terhadap tingkah laku anak-anak.Dulu di Sekolah Dasar, murid diajarkan untuk mengatakan secara implisit dan menggunakan kata yang sopan untuk meminta izin ke kamar mandi seperti “pak/bu, izin ke belakang” walaupun sebenarnya kamar mandi tidak benar-benar berada di belakang. Namun ketika di SMP/SMA kebiasaan itu mulai hilang. Murid dengan cueknya mengatakan secara ekspilisit ketika meminta izin kepada guru yang bersangkutan. Hal itu pun tidak diluruskan oleh guru-guru, entah karena murid yang dianggap sudah ‘dewasa’ sehingga dianggap seharusnya sudah mengerti, atau memang sudah tidak peduli.
            Faktor lain yang mempengaruhi degradasi moral anak bangsa adalah lingkungan dan perkembangan teknologi. Remaja yang pada umumnya sedang dalam tahap mencari jati diri membuatnya semakin mudah untuk terpengaruh. Keluarga sebagai unit terkecil tentu saja sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter yang dapat berimplikasi pada moral sang anak. Anak yang terlalu dimanjakan mengakibatkan pembelaan yang berlebihan oleh orang tua terhadap tindakan anak terutama untuk menjaga ‘kehormatan/harga diri’ dari keluarga tersebut. Perceraian, pertikaian, dan ketidakpedulian orang tua membuat anak mencari lingkungan yang baru dan berdampak pada degradasi moral ketika anak memilih lingkungan yang salah.
            Selain lingkungan, perkembangan teknologi juga sangat mempengaruhi penurunan kualitas anak bangsa. Maraknya gadget dan kemudahan akses internet membuat budaya asing masuk dengan bebas sehingga timbul salah satunya budaya barat di kalangan remaja. Pakaian yang ‘terbuka’ menjadi hal yang biasa bagi remaja. Di samping itu, tayangan televisi juga sangat berpengaruh. Misalnya ketika orang tua sedang menonton acara berita, ada tayangan tentang kejahatan dan juga kekerasan yang secara tidak langsung memberikan contoh pada anak. Acara televisi juga semakin tidak bermutu. Muncul acara hiburan yang semakin tidak jelas tujuannya. Film dan sinetron juga memunculkan konflik dan adegan yang secara tidak langsung dijadikan sebagai contoh oleh anak dan menumbuhkan pola pikir pemeran pada film/sinetron tersebut terutama sifat buruk yang dimunculkan pemeran antagonis.
            Hal ini tentu saja tidak akan terjadi begitu cepat jika pemerintah dapat menyaring tayangan-tayangan yang tidak bermutu dan kurang bermanfaat. Selain itu, kepedulian masyarakat terhadap tingkah laku anak juga diperlukan baik dari lingkungan keluarga atau sekolah untuk menimbulkan kebiasaan baik dan menjadikan anak bangsa yang bermoral.